![]() |
| Dr. Kristian H.P Lambe, saat menjabat Ketua Komis III DPRD Tana Toraja |
Oleh: Dr. Kristian H. P. Lambe (Dosen UKI Paulus dan Dewan Pakar PIKI Sulsel)
Di tengah keriuhan suara tanduk yang beradu dalam tradisi Ma’pasilaga Tedong, ada sebuah sunyi yang perlu kita dengarkan kembali. Sebuah sunyi tentang makna penghormatan, nilai kekeluargaan, dan kesucian adat yang perlahan mulai tertutup oleh debu perjudian.
Langkah Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja (BPS-GT) yang secara tegas menolak praktik judi dalam tradisi adat bukanlah sebuah upaya untuk membatasi budaya. Sebaliknya, ini adalah sebuah "Panggilan Rindu" untuk mengembalikan wajah asli Toraja yang luhur dan bermartabat.
Tradisi: Antara Kehormatan dan Taruhan
Ma’pasilaga Tedong dalam ritual Rambu Solo’ sejatinya adalah narasi tentang perpisahan dan penghormatan terakhir. Namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa hari ini, kesakralan itu sering kali ternoda oleh kepentingan bandar. Saat arena berubah menjadi transaksi rupiah, esensi budaya kita sedang dipertaruhkan.
Saya percaya, solusinya harus dimulai dari kemurnian niat. Kita perlu mendorong agar setiap silaga (adu kerbau) kembali ke akarnya: hanya melibatkan kerbau milik keluarga yang berduka. Dengan membatasi masuknya kerbau dari luar, kita secara perlahan memutus rantai perjudian yang sering kali menumpang di punggung tradisi kita. Di sini, peran Polri sangat krusial untuk menjaga agar arena tetap menjadi tempat penghormatan, bukan tempat tindak pidana.
Suara Profetis: Cinta yang Berani Menegur
Sikap BPS-GT yang "berani tidak populer" adalah cermin dari kasih seorang ibu kepada anaknya; tegas menegur karena ingin menyelamatkan. Dalam kerangka Teologi Reformasi dan Sosiologi Agama, inilah esensi dari suara profetis Gereja:
Menyuarakan Kebenaran: Mengingatkan kembali bahwa di atas segala adat, ada moralitas yang harus dijaga.
Membela yang Rentan: Melindungi masyarakat dari jeratan ekonomi akibat judi dan penyakit sosial lainnya.
Kritik yang Membangun: Mengajak otoritas lokal untuk tidak membiarkan penyakit masyarakat tumbuh subur di balik selimut tradisi.
Menjadi Garam dan Terang: Menjaga agar komunitas kita tetap memiliki rasa dan cahaya di tengah perubahan zaman.
Membangun Harapan (Shalom): Mengintegrasikan iman Kristen dengan kearifan lokal dalam harmoni yang menyejukkan.
Penutup: Warisan untuk Anak Cucu
Keputusan BPS-GT adalah sebuah undangan bagi kita semua untuk melakukan revitalisasi batin. Kita tidak sedang menghapus masa lalu, kita sedang merawat masa depan. Kita ingin anak cucu kita mengenal Tedong sebagai simbol kemuliaan keluarga, bukan sebagai alat taruhan di atas meja judi.
Inilah saatnya kita membasuh wajah budaya kita, agar ia kembali bersinar dengan cahaya keimanan dan kehormatan yang sejati.
Tuhan memberkati kita semua. Amin.



