![]() |
| Gambar hasil Screenshot dari video berdurasi 12 menit |
InfokitaSulsel.com, Tana Toraja — Dunia pendidikan di Toraja kembali dihadapkan pada pertanyaan serius menyusul beredarnya sebuah video di media sosial Facebook yang memperlihatkan sejumlah anak berseragam sekolah tingkat SMP berada di tengah aktivitas yang diduga merupakan judi sabung ayam.
Video tersebut beredar melalui akun Facebook Londong Porrokan. Dalam rekaman tampak sejumlah anak mengenakan pakaian yang menyerupai seragam sekolah SMP dan berada di sekitar arena sabung ayam yang terlihat seperti di hutan hutan. Percakapan dalam video juga terdengar menggunakan bahasa Toraja.
Meski demikian, hingga kini belum diketahui secara pasti lokasi kegiatan, identitas para anak, asal sekolah maupun waktu pengambilan video. Fakta tersebut masih membutuhkan verifikasi dari pihak berwenang.
Namun, terlepas dari belum terungkapnya lokasi dan identitas para pelajar, munculnya anak usia sekolah dalam sebuah arena yang diduga menjadi tempat aktivitas perjudian patut menjadi perhatian serius. Persoalan ini bukan semata-mata tentang perilaku anak, tetapi juga menyangkut lingkungan sosial dan sistem pengawasan terhadap generasi muda.
Bukan Lagi Sekadar Persoalan Kenakalan Remaja
Presidium Gerak Kemasyarakatan PMKRI Cabang Toraja, Milton Lando, menilai video tersebut harus menjadi alarm bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan di Toraja.
Menurutnya, apabila anak-anak dalam video tersebut benar merupakan pelajar SMP dan terlibat dalam aktivitas sabung ayam, maka kondisi tersebut telah mencederai marwah pendidikan serta menunjukkan adanya persoalan dalam proses pembinaan generasi muda.
“Ini sangat mencederai marwah pendidikan yang ada di Toraja. Ini mempertontonkan kegagalan stakeholder yang bertugas dalam bidang pendidikan dan kaderisasi generasi masa depan Toraja,” ujar Milton.
Ia menilai pendidikan tidak boleh hanya diukur dari keberhasilan siswa memperoleh nilai akademik. Pembentukan karakter, pengawasan pergaulan dan perlindungan anak dari lingkungan negatif juga merupakan bagian penting dari tanggung jawab pendidikan.
Karena itu, menurut Milton, beredarnya video tersebut harus menjadi momentum untuk mengevaluasi sejauh mana sekolah, keluarga, pemerintah dan masyarakat menjalankan fungsi pengawasan terhadap anak-anak usia sekolah.
Dinas Pendidikan dan DPRD Diminta Turun Tangan
Milton meminta Dinas Pendidikan bersama DPRD Tana Toraja tidak menganggap persoalan tersebut sebagai fenomena biasa.
Jika nantinya aparat berhasil mengidentifikasi lokasi dan sekolah asal para pelajar dalam video, ia meminta adanya evaluasi terhadap sistem pembinaan di sekolah terkait.
“Apabila sudah diketahui lokasinya dan siswa dari sekolah mana, maka kepala sekolah bersama gurunya harus dievaluasi kinerjanya,” tegas Milton.
Menurutnya, evaluasi tersebut bukan berarti seluruh kesalahan harus dibebankan kepada pihak sekolah. Sebaliknya, evaluasi diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat celah dalam sistem pembinaan dan pengawasan siswa yang selama ini belum berjalan secara maksimal.
Polisi Diminta Ungkap Lokasi dan Pihak yang Terlibat
Milton juga mendesak pihak kepolisian melakukan penyelidikan terhadap video tersebut. Polisi dinilai perlu menelusuri sumber video, lokasi kejadian serta pihak-pihak yang berada di balik aktivitas tersebut.
“Pihak kepolisian juga harus mencari dan menyelidiki di mana kegiatan itu dilaksanakan,” katanya.
Menurutnya, apabila benar terdapat aktivitas perjudian yang melibatkan atau berlangsung di sekitar anak-anak sekolah, persoalannya tidak boleh berhenti pada identifikasi para pelajar.
Pihak-pihak dewasa yang mengorganisasi, menyediakan tempat, memfasilitasi atau melibatkan anak dalam aktivitas tersebut juga perlu ditelusuri berdasarkan fakta dan ketentuan hukum yang berlaku.
Di sisi lain, Milton menekankan agar anak-anak yang nantinya teridentifikasi tetap ditempatkan sebagai pihak yang membutuhkan pembinaan dan perlindungan. Penanganan tidak boleh semata-mata berorientasi pada penghukuman terhadap anak.
Jangan Tunggu Generasi Muda Terlanjur Rusak
Beredarnya video tersebut menjadi refleksi bahwa persoalan pendidikan tidak berhenti di ruang kelas. Lingkungan pergaulan, keluarga, masyarakat dan pengawasan pemerintah memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter generasi muda.
Jika anak-anak usia SMP benar dapat berada di tengah aktivitas yang diduga perjudian, maka yang perlu dipertanyakan bukan hanya “mengapa anak itu berada di sana?”, tetapi juga “siapa yang seharusnya mencegah mereka berada di sana?”
Karena itu, pemerintah daerah, DPRD, Dinas Pendidikan, pihak sekolah, keluarga, masyarakat dan kepolisian dituntut tidak saling melempar tanggung jawab.
Jangan sampai video tersebut hanya menjadi viral sesaat, sementara akar persoalannya kembali terlupakan. Sebab, yang dipertaruhkan bukan sekadar nama sebuah sekolah, melainkan masa depan generasi muda Toraja.(red)



