Iklan

Iklan

,

Iklan

Universitas Indonesia Menggali Kembali Permainan Tradisional Anak Manggarai Melalui Perlombaan

Editor
5 Sep 2022, 21:04 WITA Last Updated 2022-09-05T23:10:04Z
A D V E R T I S E M E N T

Gambar 1. Permainan Ban Batu (Dok Uci)

Infokitasulsel.com, Nusa Tenggara Timur -Permainan tradisional anak saat ini sedang mengalami krisis akibat maraknya games dalam gawai. Seorang anak dapat berlama-lama bermain games dalam genggaman gawai, tanpa mengindahkan orang disekitarnya.


Terkadang malah anak menjadi marah jika sedang bermain games lalu dihentikan oleh kakak atau orangtua mereka. Hal ini tentu menjadi keprihatinan banyak orang tua yang merasa sulit mengendalikan anak-anak mereka dari ketergantungan gawai. 


Anak-anak Manggarai, di Desa Tangge, mungkin dapat disebut beruntung karena keterbatasan ekonomi orang tua mereka, maka anak-anak tidak memiliki handphone. Waktu luang anak-anak saat jeda istirahat disekolah biasanya mereka gunakan dengan berlari kejar-kerjaran  atau membeli jajanan dari pedagang di sekitar sekolah mereka. Sedangkan jika di rumah, anak-anak Manggarai masih memainkan permainan tradisional secara bersama.


"Universitas Indonesia melalui Rumah Cerdas Varanus Komodoensis memang mengumpulkan dan mendokumentasikan permainan tradisional anak Manggarai sebagai aset kekayaan budaya bangsa” Ungkap Dr. Sri Murni, M.Kes, Dosen Antropologi FISIP UI yang juga menjadi Ketua Pengabdi dari kegiatan pengabdian masyarakat ini.


Memainkan permainan tradisional merupakan salah satu program Rumah Cerdas Varanus Komodoensis yang berlokasi di Desa Tangge, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat. Rumah cerdas ini adalah rumah cerdas ke Duabelas dari banyak rumah cerdas yang tersebar di seluruh Indonesia. 


"Kami senang anak-anak Manggarai masih mengingat dan dapat memainkan permainan tradisioanal mereka hingga saat ini," papar Murni yang didampingi oleh Irhamni Rahman, S.Hum, M.Kessos, Alumnus Universitas Indonesia dan pengajar di Universitas Muhammadiyah Jakarta. 


Tim Universitas Indonesia bersama para guru yang kini telah menjadi kader Rumah Cerdas Varanus Komodoesnsis menggelar permainan tradisional dalam format perlombaan. Anak-anak dibuat dalam kelompok-kelompok yang terdiri dari 4-5 anak. Setiap kelompok dipersilakan untuk memainkan sebuah permainan yang berbeda dengan kelompok lainnya.


Riuh suara anak-anak hingga berteriak agar kelompok mereka diberi kesempatan untuk menjajal kebolehannya. Sayangnya hanya 9 kelompok yang dapat mendemokan 9 permainan anak Manggarai karena beberapa kelompok ternyata menggelar permainan yang sama dengan kelompok lainnya. Kesembilan kelompok ini mempertunjukan permainan Agen TV/Kedengkeng, Ogoh Salib, Minta Miskin- Minta Kaya, Jengkal, Bois, Jilau, Ban Batu, Ayam Babi Cicak, dan Seko Ajo.


Gambar 2. Permainan Jilau (Dok. Uci)


Gambar 3. Permainan Bois (Dok. Uci)


Gambar 4. Permainan Jengkal (Dok. Uci)

Gambar 5. Permainan Minta Miskin – Minta Kaya
(Dok. Uci)

"Tujuan lomba permainan tradisi ini sebenarnya lebih untuk menginventarisasi dan mendokumenatsikan permainan anak Manggarai, jadi semua peserta loma tetap mendapat hadiah," Jelas Murni menutup perbincangan.


(UNIVERSITAS INDONESIA)



Iklan

               
         
close