Iklan

Iklan

,

Iklan

A D V E R T I S E M E N T

Khawatirkan Dampak Lingkungan, Ratusan Warga Balla Demo Tolak Proyek Geothermal 13 Ribu Hektare

Redaksi
27 Jan 2026, 22:29 WITA Last Updated 2026-01-27T14:30:34Z

Ist
Infokitasulsel.com, Bittuang - Rencana pembangunan proyek energi panas bumi (Geothermal) di Lembang Balla, Kecamatan Bittuang, Tana Toraja, mendapat penolakan keras dari warga setempat. Masyarakat adat Lembang Balla secara bulat menyatakan sikap untuk menghentikan rencana proyek yang disebut-sebut akan segera dikerjakan tersebut.

Penegasan ini disampaikan dalam pertemuan besar melalui konsolidasi masyarakat adat yang digelar di Tongkonan Tondonna, Selasa (27/01/2026).

Tokoh masyarakat Balla, Markus Raya Rada, mengungkapkan bahwa keputusan ini diambil setelah warga mempertimbangkan berbagai risiko yang bisa mengancam ruang hidup mereka.

"Sesuai hasil konsolidasi masyarakat adat Balla di Tongkonan Tondonna hari ini, kami sepakat menolak keras rencana pembangunan tambang Geothermal di wilayah kami," tegas Markus.

Keputusan penolakan ini bukan tanpa alasan. Markus membeberkan hasil studi banding yang ia lakukan di Bandung, Jawa Barat, bulan lalu bersama Dinas Lingkungan Hidup dan sejumlah perwakilan masyarakat. Dari pengamatan langsung tersebut, ia melihat adanya perbedaan mencolok antara lokasi proyek di Jawa dengan kondisi geografis di Bittuang.

"Di Bandung, lahannya hanya sekitar 20 hektare, sedangkan di sini wilayah yang disurvei mencapai 13 ribu hektare. Selain itu, di sana lokasinya jauh dari pemukiman. Sangat berbeda dengan di Balla yang padat penduduk," jelasnya.

Ia juga mencemaskan dampak infrastruktur pipa gas yang berisiko melintasi area perumahan warga. "Di sana pipa lewat jalan raya, kalau di sini besar kemungkinan masuk ke permukiman. Itulah alasan utama mengapa kami menolak keras proyek ini masuk," tambahnya.

Pantauan di lokasi konsolidasi menunjukkan suasana haru sekaligus penuh semangat. Ratusan masyarakat adat berkumpul dan secara bergantian menyampaikan orasi penolakan.

"Kami masyarakat adat Balla menolak keras adanya rencana pembangunan Geothermal panas bumi di kampung kami. Ini demi masa depan generasi kami," teriak Mika, salah satu warga saat berorasi di tengah massa.

Hingga saat ini, gelombang protes warga terus mengalir. Masyarakat berharap pemerintah daerah maupun pihak pengembang mendengarkan aspirasi arus bawah sebelum melangkah lebih jauh dalam proyek strategis tersebut.

Iklan

               
         
close