Iklan

Iklan

,

Iklan

A D V E R T I S E M E N T

Tanaman Rusak Akibat Kerbau Liar, Warga Belau Utara Ancam Tempuh Jalur Hukum

Redaksi
12 Feb 2026, 06:17 WITA Last Updated 2026-02-11T22:22:56Z
Ist

Infokitasulsel.com, Tator - Konflik antara petani dan pemilik ternak mencuat di Kecamatan Masanda, Tana Toraja. Sejumlah warga mengeluhkan kawanan kerbau yang dilepasliarkan oleh pemiliknya karena masuk ke area perkebunan dan merusak berbagai komoditas pertanian milik masyarakat setempat.


Ketua Kelompok Tani Batang, Alharis Tandilinggi, S.H., menegaskan bahwa para petani telah mencapai batas kesabaran. Ia mendesak para pemilik ternak untuk segera mengevakuasi kerbau-kerbau mereka dari wilayah perkebunan Masanda Induk, Tabaya, dan Seppon.


"Jika hingga Februari ini ternak-ternak tersebut belum dikeluarkan, kami akan membuat laporan resmi ke pihak kepolisian. Sudah ada landasan hukumnya. Jika tidak mau mengeluarkan secara sukarela, maka proses hukum akan berjalan," ujar Alharis saat dikonfirmasi via telepon, Rabu (11/02/2026).

 

Alharis juga mengingatkan pemerintah setempat untuk lebih berpihak pada kesejahteraan petani. Menurutnya, pemerintah harus mendukung produktivitas warga, bukan justru membiarkan praktik yang merugikan mata pencaharian utama masyarakat.


Kerugian Mencapai Puluhan Juta Rupiah

Salah satu petani yang terdampak signifikan, Benyamin Bongga Lola (Papa Uco’), membeberkan rincian kerugian materil yang dialaminya. Benyamin mengklaim mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah akibat kerusakan lahan yang masif.


Daftar Kerusakan Lahan Benyamin Bongga:

  • Kopi Lampung: 178 pohon rusak.

  • Pohon Pinang: 19 pohon.

  • Tanaman Pangan: Jagung, labu, timun, jahe, buncis, kacang panjang, dan bibit pepaya.

  • Infrastruktur: Tanggul kolam ikan turut mengalami kerusakan.


"Saya meminta ganti rugi sebesar Rp12 juta atas kerusakan ini. Saya sudah melayangkan surat keberatan ke Kantor Lembang Belau Utara dan Kantor Kecamatan Masanda, namun hingga kini belum ada solusi nyata yang diberikan," ungkap Benyamin.


Tanggapan Pemerintah Setempat

Merespons keluhan tersebut, Kepala Lembang Belau Utara, Frederick Kumbun, menyatakan pihaknya tengah mengupayakan mediasi antara pihak-pihak yang bersengketa.


"Persoalan ini akan tetap kami upayakan untuk didudukkan bersama di tingkat Lembang (desa) terlebih dahulu sebelum dibawa ke tingkat kecamatan. Kami akan mengomunikasikan hal ini agar ada titik temu yang baik antara pihak korban dan pemilik ternak," jelas Frederick melalui pesan singkat.


Hingga berita ini diturunkan, warga masih menunggu langkah konkret dari pemerintah setempat untuk menyelesaikan konflik lahan ini guna mencegah kerugian yang lebih besar di musim tanam mendatang.

Iklan

               
         
close